Arupadai Veedu (six sacred abode) adalah enam kuil yang didedikasikan untuk Murugan, terletak di Thiruparankundram, Thiruchendur, Palani, Swamimalai, Tiruttani, dan Pazhamudircholai, yang kesemuanya berada di negara bagian Tamil Nadu. Salah satu tradisi utama dari enam kuil itu adalah peristiwa para bhakta mencukur rambut untuk menghormati Palani. Enam tempat suci Murugan ini disebutkan dalam literatur era Sanggam (academy), termasuk dalam teks Tirumurukatṟuppadai yang disusun oleh Nakkiranar, dan dalam untaian Thiruppugazh, oleh Arunagirinathar.
Kisah Murugan diceritakan dalam Skanda Puranam. Menurut teks tersebut, asura Soorapadman mengusir para dewa dari Swarga, hal mana membuat para dewa meminta bantuan Wisnu dan Brahma. Keduanya memohon Siwa melakukan sesuatu. Menyetujui permohonan tersebut; Siwa meluncurkan enam sorotan cahaya dari mata ketigaNya yang kemudian menampilkan Murugan yang kelak menjadi komandan besar untuk para dewa. Murugan melenyapkan Soorapadman dalam suatu pertempuran yang sengit yang berlangsung selama enam hari (atau ada yang menyebutnya 10 hari) dan mengembalikan Swarga kepada para dewa. Murugan kemudian melakukan wiwaha dengan Dewi Sri Walli dan Devasena/Deivayanai di Thiruchendur.
Dalam literatur Tamil, dijelaskan adanya penggolongan lima jenis tanah (landscapes). Berbagai dewa ditetapkan sebagai pelindung wilayah-wilayah tersebut, sebagaimana tertera di dalam sastra Tamil dan literatur era Sanggam:
Era Sanggam Tamil mempertemukan legendaris para penyair dan cendekiawan Tamil, yang diyakini terjadi pada zaman kuno. Menurut tradisi Tamil, ada tiga Sanggam, yang masing-masing berkontribusi pada pengembangan sastra dan budaya Tamil yaang membahas cinta, perang, etika, dan pemerintahan dan yang juga memberikan wawasan tentang masyarakat, penguasa, dan lanskap Tamil kuno. Kesemuanya telah memengaruhi karya-karya Tamil selanjutnya, termasuk Silappathikaram dan Manimekalai. Sanggam Pertama (di Madurai?), kemungkinan dipimpin oleh Agastya (atau ada yang memperkirakan Dewa Siwa). Era ini dikatakan telah bertahan selama 4.440 tahun dan diyakini telah memproduksi, antara lain: Akathiyam, Perumparipadal, Mudukuruku, Mudunarai dan Kalariyavirai. Menurut catatan tidak ada pihak manapun yang pernah menemukan karya-karya tersebut.
Sanggam Kedua atau Sanggam Tengah berlangsung di Kapatapuram yang kotanya sudah hilang atau tenggelam ke kedalaman laut. Era ini bertahan selama 3.700 tahun dengan 3700 penyair/cendekiawan. Mereka menghasilkan karya-karya seperti Tholkappiyam — teks tata bahasa Tamil awal — yang juga hilang karena bencana alam. Ketuanya kemungkinan Agastya dengan muridnya yang terkenal bernama Tholkappiyar. Namun ada yang menyebut bahwa kemungkinan ketua Sanggam ini adalah Dewa Murugan. Sejumlah karya sastra pada zaman ini adalah Kali, Kuruku, Venthogai dan Viayalamalai Agaval. Buku tata bahasa (grammar) dari periode ini adalah Agathiyam, Tholkappiyam, Maapuranam, Isainunukam dan Putapuranam. Diyakini sebanyak 59 penyair/cendekiawan dan lima raja Pandya telah menghasilkan berbagai syair pada era tersebut.
Sanggam Ketiga di Madurai tahun 300 SM hingga 300 M bertahan selama 1.850 tahun dengan 449 penyair/cendekiawan, termasuk Nakkeerar, dan menghasilkan karya sastra antara lain Akananuru, Purananuru, Kurunthogai dan Tholkappiyam yang kesemuanya ditemukan kembali pada abad ke-19 dan dapat dilestarikan hingga saat ini. 
Kuil ini terletak di dekat Madurai, di sebuah bukit tempat Murugan melakukan wiwaha dengan putri (angkat) Indra, Devasena/Deiwayanai. Kuil ini didirikan oleh Raja Pandya di abad ke-6. Nakkeerar dan Arunagirinathar memuja Murugan di kuil ini dan Dewa Siwa sebagai Parangirinathar. Murugan merobohkan gunung Krouncha dengan sekali melempar Vel, di Tiruparamkundram, setelah mengalahkan Soorapadman. Pratima Dewa Murugan di sini terkesan damai dan tenang. Ini adalah tempat yang pertama dari Arupadai Veedu dan satu-satunya kuil di mana abhishekam dilakukan untuk Vel yang melambangkan kebijaksanaan dan pelenyapan kebodohan. Perayaan besar di sini, termasuk Vaikasi Visakam, Skanda Sashti, dan Masi Festival.
Kuil ini terletak di tepi pantai dekat Thoothukudi di antara sisa-sisa gunung Gandhamadana atau Santhanamalai. Dari enam Padaiveedu Murugan, hanya Thiruchendur yang terletak di tepi pantai, sementara kuil-kuil yang lainnya terletak di perbukitan. Thiruchendur adalah satu-satunya tempat Murugan beserta pasukannya tinggal, ketika Murugan mengatur strategi untuk menggempur Soorapadman dan memenangi pertempuran. Kemenangan tersebut diperingati sebagai “Soorasamharam” atau perayaan besar Skanda Sashti secara megah dan kolossal setiap tahun. Pada akhir pertempuran, Murugan membelah Soorapadman menjadi dua dengan Vel-Nya, yang kemudian tercipta hewan merak dan ayam jantan.
Kompleks kuil ini berukuran 91 meter dari utara ke selatan dan 65 meter dari timur ke barat, dengan rajagopuram (menara) sembilan tingkat yang berdiri setinggi 48 meter. Ruang suci bagian dalam dibentuk menjadi sebuah gua. Sebuah sumur suci yang disebut Nali Kinaru, yang dialiri mata air tawar, terletak 100 meter di selatan candi.
Di kuil ini terdapat suatu kejadian menarik seputar arca Panchaloha (bahan campuran: gold, silver, copper, zinc, iron) Murugan. Menurut catatan sejarah, pada tahun 1648 M, tentara bayaran Belanda menjarah kuil dan mengambil arca tersebut, utamanya karena mereka mengira arca itu terbuat dari emas. Namun, saat mereka mencoba mengangkutnya melalui laut, armada mereka dilanda badai dahsyat. Karena takut murka Dewa, mereka melemparkan arca itu ke laut. Kemudian, seorang administrator yang setia bernama Vadamalaiyappa Pillaiyyan bermimpi tentang tempat di mana lokasi arca itu dihanyutkan di laut. Mengikuti tanda-tanda mimpi, nelayan setempat berhasil mengambil arca itu dan mengembalikannya ke kuil. Peristiwa ajaib ini masih terus dirayakan, hal mana telah turut memperkuat makna spiritual kuil tersebut.
Kuil ini terletak di distrik Dindigul, di bukit Palani (berasal dari dua kata: Pazham + Nee) yang juga disebut ‘Thiruaavinankudi.’ Kuil ini memiliki 690 anak tangga. Murugan di sini dikenal sebagai ‘Kulanthai Velayuthaswami” dan dipuja oleh Ibu Lakshmi (‘Thiru’), sapi suci Kamadhenu (‘Aa’), Dewa Surya (‘Inan’), dewi bumi (‘ku’), dan dewa api Agni (‘Di’). Karenanya, tempat ini disebut “Thiruaavinankudi”. Kuil ini juga disebutkan dalam literatur Sanggam, khususnya dalam Tirumurukattrupadai.
Murugan juga dikenal dengan nama ‘Dhandayuthapani’ di sini yang tampil dalam postur meditasi, membawa tongkat (‘dhanda’) sebagai senjata (‘ayutha’) di tanganNya (‘pani’). Di sini, arca dewa utama Murugan yang diciptakan oleh Siddhar Bhogar terbuat dari bahan Navabashanam (sembilan mineral/zat langka) yang memiliki khasiat obat dan spiritual yang kuat serta diresapi energi suci. Navabashanam sangat terkait dengan pengobatan Siddha, sistem penyembuhan Tamil kuno yang memanfaatkan herbal dan mineral untuk kesejahteraan holistik. Para bhakta percaya bahwa air abhishekam dari arca ini memiliki khasiat penyembuhan yang hebat. Pengetahuan tentang cara menyiapkan Navabashanam yang diwariskan dari generasi ke generasi Siddha dianggap sangat rahasia dan sakral.
Kompleks kuil ini meliputi mandapam, gopuram, dan kolam suci. Festival besar yang dirayakan di sini yaitu Thaipusam dan prosesi kavadi, Pangguni Uthiram, Vaikasi Visakam, dan Skanda Sashti. Kuil ini terkenal dengan pembagian persembahan suci Panchamritam (five nectar: banana, honey, jaggery, dates, and ghee).
Kuil ini terletak sekitar 5 km dari Kumbakonam, di tepi anak sungai Kaveri. Kuil yang diyakini telah ada sejak periode Sanggam (abad ke-2 SM) dan kemudian dibangun kembali oleh Parantaka Chola, juga disebut Tiruveragam, di atas bukit buatan dengan tiga gopuram (menara gerbang) dan 60 anak tangga yang melambangkan 60 nama-nama tahun Tamil, sementara kuil Siwa (Sundareswarar) dan Parwati (Meenakshi) juga terdapat di sebuah lokasi sebelum Swamimalai. Kuil ini memperingati peristiwa di mana Murugan menjelaskan esensi pranava mantera “Om” kepada ayahNya, Siwa sehingga Murugan mendapatkan nama Swaminatha Swamy. Tempat ini juga dikenal sebagai Gurumalai dan Swamimalai. Festival besarnya di sini, termasuk Vaikasi Visakam, yang dihadiri ribuan umat.
Kuil ini terletak sekitar 75km dari Chennai. Tampilan Murugan di sini terlihat damai secara batiniah setelah memenangkan perang melawan para asuras pimpinan Soorapadman. Kuil di bukit ini memiliki 365 anak tangga yang melambangkan jumlah hari dalam setahun. Murugan bertemu dan melakukan wiwaha dengan Sri Walli di tempat ini.
Sri Walli yang adalah inkarnasi Sundarawalli, putri Wisnu, dibesarkan oleh seorang kepala suku bernama Nambi. Sri Walli melambangkan Ichha Shakti (kekuatan kehendak), simbol pengabdian dan cinta. Murugan melakukan wiwaha ini setelah melewati suatu kisah dramatis yang melibatkan penyamaran dan campur tangan suci, termasuk Dewa Ganesha.
Kuil ini juga disinggung dalam literatur Sanggam, khususnya di teks Tirumurugatruppadai. Kuil ini diketahui telah dilindungi oleh para penguasa Vijayanagaram dan kepala suku setempat. Festival besar yang dirayakan di sini meliputi Vaikasi Visakam, Skanda Sashti, dan Aadi Kirthika. Di sini, para bhakta mempersembahkan pasta cendana, yang diyakini memiliki khasiat obat.
Kuil ini terletak sekitar 25 km dari Madurai dan disekat oleh sebuah bukit kecil bernama Solaimalai dengan aliran sungai/mata air suci yang berada di dekatnya, disebut “Noopura Gangai” yang diyakini berasal dari gelang kaki Dewa Wisnu. Murugan sebagai Jnana Shakti (Kekuatan Pengetahuan) terlihat di sini bersama kedua permaisuriNya, Deivayanai (Kriya Shakti) dan Sri Walli (Ichha Shakti). Hanya di kuil ini saja Murugan memberkati para bhaktaNya berdiri bersama Sri Walli dan Deivayanai.
Selain itu, di tempat ini Murugan bertemu dengan penyair hebat, Avvaiyar. Kisah Murugan dan Avvaiyar dalam tradisi Tamil menonjolkan kebijaksanaan, kerendahan hati, dan keceriaan suci. Avvaiyar, penyair yang dihormati dan pemuja Murugan, dikenal karena pengetahuan dan kontribusi sastranya yang mendalam. Suatu hari, Avvaiyar berhenti di bawah pohon jamun (naval) karena merasa lelah dan lapar. Seorang anak laki-laki — yang sebenarnya adalah Murugan — menawari Avvaiyar beberapa buah jamun dan bertanya apakah ia menginginkan “sutta pazham” (buah matang) atau “sudaatha pazham” (buah mentah). Avvaiyar memilih buah yang matang. Namun, ketika Avvaiyar meniup buah itu untuk menghilangkan debu, ia menyadari bahwa buah itu masih mentah.
Murugan kemudian sambil bercanda menanyakan pemahamannya tentang kematangan, yang membuat Avvaiyar menyadari kehadiran suci Murugan. Avvaiyar dengan rendah hati membungkuk di hadapan Murugan, menyadari bahkan dengan semua kebijaksanaannya, ia masih harus belajar banyak. Momen ini melambangkan bagaimana pengetahuan sejati datang dengan kerendahan hati dan bahkan ulama terhebat sekalipun dapat diuji oleh unsur suci.
Kuil ini terletak dekat Alagar Kovil, kuil Wisnu, yang melambangkan kesatuan Shaivisme dan Vaishnavisme. Vel (tombak) Murugan, yang terbuat dari batu, memiliki makna khusus dan disembah di sini dengan penuh penghormatan. Festival besar yang dirayakan di sini, termasuk Vaikasi Visakam dan Skanda Sashti. 