Thaipusam atau Thaipusa(t)Thirunaal adalah festival Hindu yang dirayakan oleh kaum Tamil pada bulan Tamil Thai (Jan/Feb) baik di India, khususnya di Arupadai Veedu, maupun di berbagai negara di dunia untuk mengangungkan kebesaran Thirumurugan yang sering juga disebut sebagai Tamil Kadavul. Semua kuil dengan dewa utama Murugan khususnya akan melaksanakan acara Thaipusam secara maksimal. Thaipusam berasal dari kata Thai dan Pusam (nama bintang = nakshatra).
Festival Thaipusam ini diperingati dalam kaitan Parwati yang memberikan Murugan sebuah Vel untuk mengenyahkan asura Soorapadman, adik laki-lakinya Tharakasooran dan Singhamukhan. Diketahui bahwa adik perempuan Soorapadman bernama Ajamukhi, tidak pernah ikut-ikutan dalam rencana/keinginan jahat abangnya. Sebenarnya ada 12 senjata yang diperoleh Murugan, 11 dari Siwa dan satu yang sangat dahsyat dari Parwati, yaitu Vel (Shaktivel).
Diketahui bahwa Murugan diciptakan oleh Siwa melalui kekuatannya sendiri yang disebut Achintya Shakti — dari mata ketigaNya — untuk menegakkan kebenaran setelah mendengar permohonan Indra dan para Deva atas keangkaramurkaan para Asuras, khususnya Soorapadman. Putra Indra, Jayanta, bahkan dipenjarakan oleh Soorapadman dengan para Devas lainnya. Skanda yang diciptakan Siwa adalah panglima perang yang hebat dan gagah perkasa.
Pertempuran yang berlangsung di Thiruchendur selama enam (atau 10 hari) diakhiri dengan kemunduran Soorapadman, yang bersembunyi dalam bentuk pohon mangga di laut. Murugan dengan menggunakan Vel membelah pohon itu menjadi dua yang kemudian menjadi burung merak dan ayam jantan. Merak yang bernama Paravani melambangkan penguasaan atas ego dan keinginan material dan ayam merupakan simbol fajar dan kebangkitan. Baik merak dan ayam ketika itu ternyata masih menyerang Murugan. Namun, Murugan bisa menjinakkan mereka dengan lirikan kasih sayang. Untuk merayakan kekalahan para asuras, utamanya Soorapadman, Murugan menjadikan merak sebagai wahanaNya dan ayam jantan sebagai lambang di benderaNya.
Dalam konteks ini, sebagian orang merayakan Thaipusam dengan memberi penekanan pada kelahiran Murugan. Menurut peristiwa lain, ketika Siwa menyampaikan mantra ke Parwati, Murugan mendengarnya secara diam-diam (menguping). Karena kesalahan itu, walau putraNya sendiri, Parwati tetap menghukumNya. Dalam menjalankan hukumanNya itu, Murugan melakukan pengorbanan/penebusan dosa di Thiruparankundram. Senang dengan pengorbanan yang dilakukan Murugan, Siwa dan Parwati muncul di depan Murugan dan menghapus hukuman itu. Hari tersebut juga menjadi salah satu alasan perayaan Thaipusam. Ada kisah lain yang terkenal terkait Idumban dan Murugan yang memunculkan alasan kuat bagi pengangkatan Kavadi (diuraikan tersendiri di bagian lain dari buku kecil ini)
Kavadi(y)attam dilakukan sebagai persembahyangan seremonial untuk Murugan ketika Thaipusam berlangsung. Kavadi itu sendiri dapat dianggap sebagai lambang beban fisik para bhakta untuk berterima kasih atau memohon berbagai pertolongan kehidupan duniawi dari Murugan.
Di India, mereka yang mengangkat Kavadi dengan maksud Sadhana mengumpulkan barang-barang dengan mengemis. Para Sadhakas berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain dan mengemis dari satu pintu ke pintu rumah lainnya. Penduduk kampung memberi barang yang langsung dimasukkan ke keranjang Kavadi. Setelah penuh, para Sadhakas membawa Kavadi itu untuk dipersembahkan kepada Murugan.
Calon pembawa Kavadi akan berpuasa selama 48 hari dan biasanya tinggal di kuil atau ashram, makan makanan yang satwik sekali sehari dan tidak makan dan minum, apalagi yang memabukkan. Selama itu pula mereka tidak memotong rambut atau bercukur. Pada hari acara, Vel yang ditancapkan pada pipi membuatnya mengingat Murugan secara konstan dan mencegahnya berbicara serta memberinya daya yang besar untuk bertahan. Pada mulanya, para bhakta hanya mencucukkan Vel yang kecil sebagai cara bermeditasi berdiam diri atau Mauna Vratam. Tetapi lambat laun, terjadi perubahan dalam perayaan Thaipusam sehingga Kavadi jadi beragam dan dilakukan penancapan tembaga hampir ke seluruh tubuh, sambil menarik kereta atau berbagai simbol religi dari satu titik ke titik akhir pemujaan. Semua itu jelas tidak dapat disamakan dengan penyiksaan diri. Tiada darah yang keluar atau bekas yang tinggal karena penancapan benda-benda tajam. Perhatikan bahwa segala syarat yang diterapkan untuk dapat mengangkat Kavadi sangatlah penuh disiplin, bersifat tegas dan agamis. Semua itu dilakukan dalam semangat nazar dan pengorbanan serta rasa bhakti yang mendalam kepada Murugan. Ada radiasi suci di wajah mereka. Para bhakta sering merasakan penyatuan dirinya dengan Murugan dalam situasi itu. Terkadang diyakini bahwa (energi) Murugan masuk membahana ke dalam diri para bhakta.
Di sisi lain, Siwa diyakini menunjukkan tarian keagunganNya pada orang-orang suci di hari ini. Karenanya, adalah penting membaca Thirumurai karena doa ini yang dianggap sangat tepat untuk dilafalkan pada kesempatan ini.
Pada kenyataannya di sebagian tempat, tidak semua Kavadi diperuntukkan bagi Murugan. Akhir-akhir ini banyak dewa yang disembah pada saat Thaipusam. Kavadi awalnya diangkat untuk menghormati hanya Murugan yang kemudian meluas ke unsur Saivite (Siva, Ganesha, Parwati) lainnya dan juga merambah ke para dewa Vaisnavite (khususnya Krishna, Rama and Hanuman) hingga dewa-dewa kecil yang ada di pedesaan, seperti Muniyandi dan Maduraiveeran. Di sinilah kita menemukan kebebasan yang ada dalam Hinduisme yang bisa merangkul semua. Tiada suatu kekakuan atau aturan yang tegas yang mengatur suatu perayaan di dalam agama Hindu. Semuanya tergantung pada kepercayaan dan kenyamanan suatu kelompok masyarakat sesuai nilai-nilai yang berlaku secara lokal.
Thaipusam dilaksanakan biasanya selama tiga hari berturut-turut sesuai kebiasan atau tradisi yg dilakukan di suatu tempat. Pada puncak perayaan Thaipusam, biasanya umat akan terlibat dalam persembahyangan dan pelayanan. Semua umat yang datang biasanya terfokus dan memberi semangat pada para bhakta yang memenuhi nazar mengangkat Kavadi. Sebagian lain memenuhi kewajiban spiritual mereka dengan cara-cara informal melayani masyarakat yang datang ke panthal (service stalls), mensuplai makanan dan minuman kepada publik, atau terlibat dalam berbagai pelayanan penting lainnya. Hal-hal ini jelas mempererat rasa persaudaraan dan mempertebal keyakinan para umat.