AGASTYA MUNI, PALANI, IDUMBAN DAN KAVADI

Agastya Muni dianggap sebagai seorang dari tujuh resi (Saptarishi) yang sangat diagungkan. Beliau merupakan siswa langsung dari Adiyogi Siwa dan sebagian orang meyakini bahwa beliau hidup selama 4000 tahun. Mahabaratha dan beberapa Purana memasukkan Agastya Muni sebagai seorang dari tujuh resi yang berperan penting dalam menyebarkan pengetahuan Weda, berbagai kebajikan dan ajaran spiritual lainnya. Namun, di sisi lain, sejumlah teks dan tradisi tidak memasukkan Agastya Muni dalam daftar tujuh resi dimaksud. Secara umum yang dikenal dalam daftar Saptarishi adalah:  Bhrigu, Atri, Vasishta, Vishwamitra, Gautama, Jamadagni, dan Kashyapa.

 

Agastya Muni pada esensinya adalah tokoh yang sangat penting dalam tradisi Hindu. Ia juga merupakan bapak mistisisme India Selatan.  Bersama istrinya Lopamudra, Agastya Muni berjasa menyusun beberapa himne dalam Rig Weda. Beliau juga berkontribusi besar dalam pengobatan Siddha yang bersumber dari India Selatan. Pengaruh kehebatan Agastya Muni juga melampaui India. Referensi tentang dirinya, misalnya, ditemukan pada sejumlah arca dan teks kuno di Asia Tenggara, termasuk di pulau Jawa, Indonesia.

 

Salah satu peristiwa penting terkait Agastya Muni menggambarkan keinginan gurunya Siwa Mahadewa untuk  mendapatkan (memindahkan) dua bukit  yang bernama Siwagiri dan Shaktigiri   menjadi tempat tinggal sang Muni. Untuk tugas itu, sang Muni menugaskan murid setianya Idumban yang sebelumnya adalah   salah seorang dari kelompok asura yang selamat dari pertempuran antara pasukan Murugan dan Soorapadman. Idumban ketika itu sudah bertobat dan menjadi pemuja Murugan.

 

Di sisi lain di Kailasham (Swargaloka), Murugan  merasakan bahwa Ia “dikalahkan” secara bijak oleh Ganesha, abang-Nya, dalam kontes lomba keliling dunia. Diketahui bahwa Ganesha memenangkan kontes tersebut dengan hanya mengelilingi orang tua-Nya dan memperoleh Gnana-pazham berupa buah mangga yang sangat manis.

 

Setelah kejadian itu, Murugan meninggalkan keluargaNya di Kailasham dan turun ke dunia/bumi menuju Thiruavinankudi di Adiwaaram (di kaki bukit Siwagiri). Melihat hal ini, Siwa menenangkan Murugan   dengan mengatakan bahwa Ia sendiri adalah buah (pazham) dari segala hikmat kebijakan dan pengetahuan. Karena itulah kemudian tempat itu disebut Pazham-nee (‘Engkau adalah buah’) yang dalam sebutan sehari-hari menjadi Pazhanee (Palani). Kita ketahui bahwa Palani merupakan satu dari enam tempat tinggal Murugan di dunia/bumi yang disebut Arupadai Veedu. Murugan kemudian tinggal dan menetap di Palani sebagai petapa serta hidup dalam damai dan kesendirianNya.

 

Kembali ke Agastya Muni; yang mengangkat bukit  Siwagiri dan Shaktigiri  di pundaknya, satu di bahu kiri dan satu di bahu kanan, yang dalam bahasa Tamil disebut Kavadi (keseimbangan) dalam perjalanannya kemudian tiba di Palani. Karena merasa lelah, ia menurunkan dua bukit itu dan meletakkannya di bawah untuk beristirahat sejenak.

 

Setelah beristirahat, ketika Idumban bangkit untuk melanjutkan perjalanannya, ia merasa tidak bisa mengangkat bukit-bukit itu lagi. Ketika itu, Idumban melihat seorang anak kecil yang hanya mengenakan kaupeenam (semacam cawat) berdiri di depannya; seolah-olah menantangnya. Idumban kemudian meminta si anak meninggalkan tempat itu agar ia bisa melanjutkan tugasnya. Anak tersebut, yang sebenarnya tidak bermaksud melawan atau ingin bertempur,  menolak permintaan Idumban dan tetap berdiri di depannya, seolah-olah ialah yang memiliki kedua bukit tersebut. Melihat kebandelan sang anak, Idumban melawannya sehingga perkelahian terjadi. Karena sengitnya pertempuran antara keduanya, tak disangka Idumban wafat,  namun atas permintaan istri Idumban yaitu Idumbi dan Agastya Muni, si anak yang kini tampil sebagai Murugan membangkitkan/menghidupkan  kembali  Idumban. (Catatan: sebagian sumber lain menyebut Idumban tidak wafat dalam pertempuran itu).

 

Sebagai rasa terima kasih, Idumban meminta kepada Murugan agar ia dapat  menjadi penjaga kuil Murugan di Palani. Murugan mengabulkan permintaannya dan menyatakan bahwa setiap pemuja yang membawa Kavadi hendaknya  terlebih dahulu memberi penghormatan kepada Idumban.

 

Peristiwa tersebut kemudian menandai adanya kuil Idumban pada paruh  jalan menuju bukit Palani, di mana peziarah memberi hormat dulu kepada Idumban sebelum memasuki kuil Dandayudhapani Swami di Palani. Sejak itu pula peziarah ke Palani membawa persembahan mereka di bahu dalam bentuk  Kavadi. Kebiasaan inilah yang kemudian menyebar dari Palani ke semua kuil Murugan di berbagai belahan dunia.

 
 

Murugan, dalam tampilanNya sebagai Dandayudhapani, melambangkan sikap Thyagam atau pengorbanan. Menghindari semua harta duniawi, pakaian yang dikenakan Murugan hanyalah kaupeenam (semacam cawat). Menurut para bhakta, sesungguhnya status Murugan sebagai Swami adalah layaknya Dewa yang bertakhta dan berkuasa. Karenanya, bhakta-Nya tidak pernah bosan menawarkan-Nya pakaian mahal dan memperkaya kuil-Nya dengan pakaian kebesaran yang mewah karena para bhakta merindukan Murugan tampil layaknya seorang maharaja. Karena itu, ada dua tampilan Murugan disini, yakni Murugan sederhana dengan memakai kaupeenam dan Murugan dengan pakaian kebesaran maharaja.